ABSTRAK
Nilai-nilai
lingkungan memainkan peran utama dalam perilaku pro-lingkungan : nilai-nilai
mempengaruhi masyarakat keyakinan, yang kemudian berpengaruh pada norma-norma
pribadi yang mengarah pada perilaku pro-lingkungan konsumen. Jadi, jika pasar
untuk produk ramah lingkungan adalah untuk menjadi mainstream , penting untuk
melihat faktor apa yang mempengaruhi proses seleksi konsumen . Dalam pemasaran
yang ramah lingkungan saat ini, branding kurang dimanfaatkan. Penggunaan
afektif branding dalam menjual produk ramah lingkungan harus menjadi bagian
dari strategi pemasaran.
Pengaruh emosi
pada mempengaruhi keputusan , pembentukan sikap dan pengambilan memori dan
peran bahwa emosi bermain di respon konsumen terhadap merek, harus
diperhitungkan . Konsumen akan lebih cenderung memilih merek yang mereka tahu
yang diproduksi oleh perusahaan yang produk dan proses yang lebih ramah
lingkungan. Konsumen juga merasa baik tentang membeli merek yang kurang merusak
lingkungan yang berbasis kognitif komunikasi pemasaran yang paling sering
digunakan untuk menjual ramah lingkungan. Produk hanya berguna dalam beberapa
cara konsumen membentuk sikap produk sehingga membatasi daya tarik mereka.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Industrialisasi
tidak bisa terlepas dari tuntutan pengelolaan limbah. Oleh karena itu sangat
beralasan jika Amurwaraharja (2003) menegaskan bahwa peningkatan volume
dan keragaman limbah pada dasarnya adalah beban masyarakat karena dampak negatif
yang mungkin timbul akibat keberadaan limbah yang tidak dikelola dan ini
akhirnya akan dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, permasalahan limbah harus
dikelola oleh semua pihak, baik masyarakat dan pemerintah selaku pemegang
otoritas pemerintahan. Salvato (1982) menegaskan beberapa aspek yang
termasuk dalam kegiatan pengelolaan limbah yaitu: pewadahan (storage), pengumpulan
(collection), pemindahan (transfer), pengangkutan (transport),
pengolahan (processing) dan juga pembuangan akhir (disposal).
Problem limbah
di kota bukanlah masalah baru karena sudah merupakan bagian dari konsekuensi,
baik konsekuensi dari pertumbuhan dan perkembangan perkotaan, juga konsekuensi
dari makin banyaknya rumah tangga di perkotaan yang melakukan berbagai
aktivitas industri berskala rumah tangga yang menghasilkan berbagai bentuk
limbah. Setiap individu di kota menghasilkan limbah rata-rata 0,50-0,65 kg per
orang per hari dengan kepadatan 200 kg/m3. Pengelolaan limbah sangat
terkait dengan aspek kesehatan masyarakat. Pengelolaan limbah yang tidak benar
bisa memicu bencana bagi kesehatan, polusi udara, pencemaran air, dan hambatan
bagi kegiatan kota.
Mayoritas limbah
kota berbahan organik yang biodegradable (60-75%) yang berasal dari
berbagai sumber. Jenis ini jika dibiarkan atau terlambat diolah akan membau.
Biaya utama penanganan limbah kota diprediksi yaitu 50% untuk pengumpulan atau
angkutan, 40% untuk pembuangan dan 10% untuk daur ulang sehingga biaya yang
harus ditanggung setiap keluarga pertahun mencapai kisaran nilai yang tidak
kecil. Mengolah limbah kota harus melibatkan semua lapisan masyarakat.
Pengelolaan
limbah kota hingga tuntas, tidak saja memerlukan teknik pengolahan limbah
berskala besar yang butuh padat modal, tapi juga secara bersamaan butuh proses
penerapan teknik pengolahan limbah berskala kecil yang bisa terdistribusi dalam
jumlah banyak sehingga dapat mengurangi beban limbah secara terpusat dan menjadi
sarana penting bagi pemeliharaan praktik budaya mengolah limbah secara lebih
mandiri, yang akan menjadi basis ketahanan ekosistem pada saat unit berskala
besar mengalami gangguan.
Penanganan
limbah di perkotaan, termasuk Solo merupakan salah satu permasalahan perkotaan
yang sampai kini menjadi tantangan terberat. Pertambahan penduduk dan
peningkatan aktivitas yang pesat di kota, termasuk keberagaman industri kecil,
termasuk industri tahu - tempe, telah memicu jumlah limbah dan aspek persoalannya.
Diprediksi paling banyak hanya 60% - 70 % yang bisa terangkut ke Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) oleh institusi yang bertanggung jawab masalah
kebersihan, misalnya Dinas Kebersihan. Limbah yang tak terangkut ditangani
swadaya atau tercecer dan secara sistematis terbuang ke mana saja. Dari beragam
limbah yang ada, salah satunya yang menarik dikaji adalah limbah industri tahu
- tempe karena makanan ini adalah identik dengan makanan pokok rakyat di
Indonesia sehingga penanganan limbahnya menjadi sangat menarik dikaji. Sebagian
besar industri tahu – tempe merupakan industri rumah tangga yang belum memiliki
unit pengolahan limbah dan di sisi lain sebanyak 1,5 - 3 m3 limbah cair
dihasilkan setiap pengolahan satu kuintal kedelai sehingga persoalan ini dapat
menjadi ancaman serius bagi lingkungan.
Prinsip
pembuatan tahu mengekstrak protein kedelai melalui penggilingan biji kedelai menggunakan
air. Konsumsi kedelai masyarakat Indonesia setiap tahunnya mencapai 2,24 juta
ton dan lebih separuh konsumsi kedelai dipakai untuk pembuatan tahu.
1.2 Rumusan
Masalah
Dari
pemahaman tentang pentingnya kesadaran lingkungan dan semakin tingginya perhatian
terhadap isu manajemen lingkungan serta tuntutan produk yang ramah lingkungan,
maka kajian pustaka ini lebih memfokuskan pada temuan riset empiris terkait
pengelolaan limbah hasil produksi, utamanya dari kasus industry tahu – tempe.
1.3 Tujuan
dan Manfaat
Tujuan
kajian pustaka ini adalah memberikan gambaran terkait manajemen lingkungan dan
juga aspek isu industrialisasi yang ramah lingkungan dengan meminimalisasi
pencemaran dari hasil produksi yang kemudian identik dengan komitmen revolusi
hijau. Oleh karena itu, manfaat kajian pusataka ini adalah membuka wacana dan
wawasan tentang urgensi produksi yang bersih sehingga mereduksi pencemaran yang
dihasilkan dari proses produksi.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Isu Manajemen Lingkungan
Isu tentang
manajemen lingkungan kini menjadi kajian yang sangat intens terkait dengan
semakin tingginya kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat
pesatnya era industrialisasi. Realitas ini akhirnya tidak bisa terlepas dari
tuntutan terhadap pemenuhan produk yang ramah lingkungan atau lebih dikenal
dengan green product. Intensitas riset tentang problem – isu manajemen lingkungan
pada akhirnya memicu pertanyaan apakah hal ini dapat meningkatkan kesadaran
produsen untuk meningkatkan kepedulian bagi proses produksi yang lebih ramah
lingkungan.
Potret egoisme
manusia yang memicu ketidakseimbangan lingkungan memang telah melampaui ambang
batas kewajaran. Kondisi lingkungan tidak pernah dilihat sebagai bagian
intergral pembangunan. Lingkungan telah dieksploitasi demi meningkatkan devisa
dan memacu pendapatan negara - PAD, tetapi tidak dibarengi dengan penyelamatan –
rehabilitasi. Ironisnya, hal ini kian marak terjadi di era otda. Terkait ini,
maka harus ada kebijakan alternative untuk mengurangi dampak industrialisasi.
Penanganan terhadap limbah pada dasarnya sangat terkait dengan peran
masyarakat. Pengertian masyarakat tidak hanya terbatas penduduk di permukiman,
tapi juga semua penghasil limbah, termasuk pengusaha kecil tahu dan tempe. Sampai
kini andalan utama menyelesaikan masalah limbah yaitu pemusnahan dengan landfilling
di TPA. Problem penanganan limbah disebabkan menurunnya kinerja dari
pengelolaan limbah akibat perubahan tatanan pemerintahan. Untuk
menangani limbah, pemerintah telah menentukan perencanaan strategis dalam
Kebijakan Nasional Bidang Persampahan (2006-2010), yaitu :
1.
Pengurangan sampah semaksimal mungkin
yaitu dimulai dari sumbernya,
2.
Mengedepankan peran dan partisipasi
masyarakat sebagai mitra pengelolaannya,
3.
Perkuatan kapasitas kelembagaan
pengelolaan persampahan,
4.
Pemisahan fungsi regulator dan operator,
5.
Pengembangan kemitraan dengan swasta,
6.
Peningkatan pelayanan untuk mencapai
sasaran,
7.
Model penerapan prinsip pemulihan biaya
secara bertahap,
8.
Peningkatan efektifitas penegakan hukum
Keberhasilan
pengelolaan limbah akan tergantung kemauan politis khususnya yaitu dari
pengelola kota. Kemauan ini dimulai dari pemahaman dan juga kesadaran akan
pentingnya sektor ini sebagai salah infrastruktur kota yang dapat menceminkan
nilai keberhasilan dalam mengelola kota. Dari sini maka peran swasta perlu
dilibatkan dalam penanganan limbah, termasuk partisipasi dalam upaya daur
ulang, pengolahan dan juga pemusnahan limbah kota. Teknologi yang berbasis
peran masyarakat perlu mendapatkan prioritas, agar keterlibatan mereka menjadi
terarah. Prinsip pengelolaan limbah harus dilakukan sedekat mungkin dengan
sumbernya. Untuk bisa mencapai hal itu, ada asumsi dalam pengelolaan limbah
yang harus diganti dengan tiga prinsip baru yaitu:
1.
Sampah yang dibuang harus dipilah
sehingga tiap bagian bisa dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal,
daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada
saat ini.
2.
Industri harus mendesain ulang
produk-produk mereka untuk lebih memudahkan proses daur-ulang produk tersebut.
Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah dan limbah. Pembuangan
sampah – limbah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang
mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi.
3.
Program-program sampah dan limbah kota
haruslah disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidaklah
mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Khususnya sektor informal (tukang
sampah atau pemulung) menjadi komponen penting dalam sistem penanganan sampah
dan limbah yang ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus bisa menjadi
komponen utama dalam sistem penanganan sampah di perkotaan.
2.2 Industrialisasi
dan Kepedulian Lingkungan
Salah
satu industri yang terkait pembuangan limbah yaitu industri tahu - tempe yang
berbahan baku kedelai yang diakui sebagai makanan tradisional yang bergizi
tinggi. Krisdiana dan Heriyanto (2000) menegaskan bahwa preferensi
penggunaan kedelai untuk berbagai industri pangan olahan relatif berbeda sehingga
limbah yang dihasilkan juga berbeda, baik secara kuantitas atau kualitas.
Khusus untuk industri tahu dan tempe menginginkan kedelai yang berukuran sedang
hingga besar, berkadar pati tinggi, berwarna kuning dan berkulit tipis.
Konsekuensi atas kuantitas - kualitas limbah yang dihasilkan dari industri tahu
dan tempe maka ancaman pencemaran tidak bisa dipandang remeh. Dari kondisi ini
maka degradasi kualitas sumberdaya alam terjadi di mana-mana. Pencemaran
industri sudah menurunkan kelas air ketingkat yang tidak dapat lagi
dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum. Hal ini ternyata juga menimpa
kondisi air di Solo.
Dampak negatif
pencemaran tidak hanya memicu nilai kerugian ekonomis dan ekologis, tapi juga membahayakan
kesehatan. Tingginya jumlah penduduk di perkotaan, mengakibatkan limbah padat -
cair kian meningkat. Kontribusi pencemar organik oleh limbah cair dari manusia
telah mencapai 50% - 75% dari limbah cair total dan ada kecenderungan terus
meningkat.
Menurut Kasi
Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Solo, Djoko Haryadi, air tanah di
Solo dinilai tidak layak konsumsi karena memiliki kandungan zat besi dan kapur
yang tinggi yang membahayakan kesehatan. Selain zat besi dan kapur, pencemaran
bakteri ecoli di air tanah di hampir semua daerah Kota Solo mencapai 30%.
Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, menjadi salah satu faktor pendukung
buruknya kualitas air tanah di Solo karena Solo tergolong terpadat penduduknya
di Jawa Tengah. Tingkat kepadatan penduduk Solo berada dalam kisaran
12.000/km². Kepadatan penduduk ini membuat air yang teresap di tanah tidak lagi
bagus, karena terkadang air sumur tercemar buangan tinja. Meskipun pencemaran
cukup tinggi, bukan berarti air tanah di Solo sama sekali tak bisa dikonsumsi
warga asal direbus terlebih dahulu
Sampling yang
dilakukan Dinas Kesehatan Kota terhadap 180 sumur air tanah di tiga kecamatan
di Solo menunjukkan mayoritas sumur warga memiliki kedalaman kurang 10 meter.
Di Kecamatan Jebres misal, 90% warga menggunakan air tanah dan dari besaran itu
sebanyak 60% sumur warga berkedalaman kurang 10 meter. Di Kecamatan Serengan
ada 63% penduduk yang menggunakan sumur air tanah dan 18% dari sumur itu berkedalaman
kurang dari 10 meter. Di Kecamatan Pasar Kliwon, 83% warga masih memakai sumur
air tanah dan dari jumlah itu, 90% sumur berkedalaman kurang dari 10 meter.
Buruknya kinerja
pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan oleh industri di Solo, termasuk industry
kecil tahu - tempe tentu tidak lepas paradigma pembangunan di Solo yang
memanjakan pencemar dan mengabaikan dampak industri terhadap lingkungan hidup.
Adanya kepentingan untuk meminimalisasi pencemaran akibat dari limbah, maka
setidaknya enam faktor penting yang mendorong industri untuk selalu melakukan
pencemaran.
Dari kasus itu
maka kepedulian industri terhadap lingkungan tak bisa lagi dianggap remeh,
termasuk juga dari kalangan pengusaha kecil tahu – tempe di Solo. Sektor
industri yang perlu mendapat perhatian serius terkait dengan manajemen
lingkungan dan limbah hasil dari industrinya yaitu:
1. Limbah
Industri Pangan
Sektor
industri - usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain: tahu,
tempe, tapioka dan juga pengolahan ikan. Limbah usaha kecil pangan bisa memicu
masalah dalam penanganannya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat,
protein, lemak, garam, mineral, dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam
pengolahan dan pembersihan. Limbah industri tahu, tempe, tapioka, industri
hasil laut dan industri pangan lain dapat menimbulkan bau yang menyengat dan
polusi berat pada air bila pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat.
2.
Limbah Industri Kimia & Bahan
Bangunan
Industri kimia seperti
alkohol dalam proses pembuatan membutuhkan air sangat besar sehingga limbah
cair yang dikeluarkan juga besar. Air limbahnya bersifat mencemari karena
didalamnya terkandung mikroorganisme, senyawa organik dan anorganik baik
terlarut maupun tersuspensi serta senyawa tambahan yang terbentuk selama proses
permentasi berlangsung. Industri ini mempunyai limbah cair selain dari proses
produksinya, juga air sisa pencucian peralatan, limbah padat berupa onggokan
hasil perasan, endapan Ca SO4, gas berupa uap alkohol. Kategori limbah industri
ini adalah limbah bahan beracun berbahaya (B3) yang mencemari air dan udara.
Kegiatan
lain dalam sektor ini yang mencemari lingkungan yaitu industri yang memakai
bahan baku galian seperti batako putih, genteng, batu kapur/gamping dan batu
bata. Pencemaran timbul akibat penggalian yang dilakukan menerus sehingga
meninggalkan kubah yang sudah tidak mengandung hara sehingga apabila tidak dikreklamasi
tidak dapat ditanami untuk ladang.
1.
Limbah Industri Sandang Kulit &
Aneka
Industri
dalam sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing,
penyamakan kulit dapat mengakibatkan pencemaran karena proses pencucian
memerlukan air sebagai mediumnya. Dari proses ini menimbulkan air buangan
(bekas proses), dimana air buangannya mengandung sisa-sisa warna, Biological
Oxygen Demand (BOD) tinggi, kadar minyak tinggi dan beracun (mengandung
limbah B3 yang tinggi).
2.
Limbah Industri Logam & Ekektronika.
Bahan
buangan yang dihasilkan industri besi baja seperti mesin bubut, cor logam dapat
memicu pencemaran lingkungan. Sebagian besar bahan pencemarnya berupa debu,
asap dan gas yang mengotori udara sekitar. Selain itu, kebisingan yang
ditimbulkan mesin dalam industri baja (logam) mengganggu ketenangan. Kadar
bahan pencemar dan tingkat kebisingan yang tinggi dapat mengganggu kesehatan, baik
yang bekerja di pabrik atau masyarakat sekitar. Meski industri baja/logam tidak
menggunakan larutan kimia, tetapi industri ini mencemari air karena buanganya
mengandung minyak pelumas danasam-asam dari proses pickling untuk
membersihkan bahan plat, sedangkan bahan buangan padat dapat dimanfaatkan
kembali.
BAB III
PENUTUP
3.1
Analisa Pembahasan
Penjabaran
diatas menegaskan bahwa isu manajemen lingkungan saat ini merupakan salah satu
aspek terpenting dalam proses produksi sehingga semua unit usaha, baik skala
besar ataupun industri rumah tangga kecil, harus memperhatikan hasil pembuangan
limbahnya. Kasus ini juga dialami oleh sentra industri tahu dan tempe di Solo
dan karenanya perlu ada penanganan secara kolektif sehingga terbangun suatu
kesadaran kolektif terhadap kepedulian lingkungan.
REFERENSI
www.google.com
www.wikipedia.org